RSS

Orang Besar Dibentuk Kata-kata Positif

21 Feb

Orang Besar Dibentuk Kata-kata Positif

Bila Anda sering menonton TV, maka tentu Anda pernah
menyaksikan yang namanya sinetron, telenovela, atau
yang sejenis dengan itu. Anda menyaksikannya karena
hobby atau tidak sengaja ketika pijit channel, tidak
jadi masalah. Yang ingin saya ingatkan dengan
pernyataan di atas adalah suatu kenyataan bahwa dalam
acara-acara TV itu banyak sekali kita jumpai kata-kata
kasar, menghina, memaki, mencaci mengumpat, dan lain
sebagainya. Dan saya pikir, apa yang disajikan dalam
TV paling tidak adalah suatu gambaran real kehidupan
manusia pada umumnya. Maksud saya dengan gambaran real
adalah fenomena hubungan antar manusia yang sering
kali ditimpali oleh kata-kata kasar, menghina,
mencaci, memaki dan sumpah serapah.

Masih terlalu banyak orang-orang yang dalam pergaulan
sehari-hari senantiasa mengisi dialognya dengan
kata-kata negatif tersebut. Sebentar-sebentar ia
teriak; “Anjing”, Babi, Setan, Goblok dan lain
sebagainya. Jika Anda mau sedikit meneliti, hampir
semua abjad alphabet dapat mewakili satu atau lebih
kata negatif; (Anjing, Babi, Cucunguk, Dongo, Edan,
Fuck you, Goblok, Haram jadah, dan seterusnya). Mohon
alinea ini dibaca dalam hati saja, hanya untuk contoh.

Di hampir setiap tempat dan di setiap waktu dapat kita
jumpai orang-orang yang biasa ataupun jarang-jarang,
mengucapkan kata-kata kasar, kotor dan negatif ini. Di
pasar, di jalan, di kantor, di sekolah, di rumah, atau
di manapaun yang di situ ada manusianya. Bahkan ketika
sendiripun manusia masih sempat juga memaki; “Sialan!,
gua sendirian aja nih!”.

Kata-kata negatif biasa diucapkan manusia sebagai
ekspresi dari rasa kesal, marah, iri, emosi atau
bermaksud melecehkan. Ia terlontar kadang secara
spontan menurut kebiasaan pelakunya. Kadang kata
negatif juga terlontar sebagai tanda keakraban yang
sangat antara dua pihak; “Hei Asu, kemana aja lu???

Kata-kata negatif biasanya terlontar dari orang-orang
yang secara faktual kurang bisa menahan emosi dan
amarah, kurang religius dan kurang berpendidikan.
Namun tidak menutup kemungkinan bahwa di suatu saat,
orang yang sangat saleh pun dapat lepas kendali dan
melontarkan kata-kata negatif.

Di satu sisi, kata-kata negatif terkadang cukup manjur
untuk melampiaskan kemarahan dan rasa kesal; misalnya
kita berjalan kaki setelah hujan, lalu tiba-tiba ada
mobil ngebut dan menghempaskan genangan air berlumpur
menyembur ke body kita; Kalau Anda orang biasa, sambil
loncat Anda akan teriak : “Setaaan!!. Kalau Anda
loncat sambil teriak : “Astaghfirullaaah” , Anda orang
yang luar biasa. Dengan teriakan itu mungkin kita akan
sedikit merasa lega, dan sambil bersungut-sungut
mengibas-kibaskan pakaian yang kotor, kita akan
melanjutkan perjalanan sementara yang ngebut tadi
terus saja tanpa merasa berdosa.

Di sisi lain, kata-kata negatif merupakan awal bagi
kehancuran peradaban manusia, di awali ketika Qabil
berkata “Gua Bunuh lu!” kepada saudaranya Habil, dan
akhirnya terus berlanjut hingga era kita sekarang ini.
Kata-kata negatif mengiringi derap manusia kemanapun
ia melangkah dan mungkin akan terus demikian hingga
perjalanan manusia di dunia ini finish.

Implikasi psikologis dari kata-kata negatif
sesungguhnya amat besar pengaruhnya pada perkembangan
jiwa seseorang, apakah itu orang yang mengucapkannya
ataupun orang yang menjadi obyek ucapan tersebut.
Ketika kata-kata negatif dilontarkan oleh seseorang,
maka orang lain segera berkesimpulan seperti apa watak
orang tersebut. Manakala kata-kata negatif itu
ditujukan kepada diri sendiri, maka sang diri akan
menjadi sosok yang kerdil, tidak PEDE, emosional,
tidak bersemangat, tertutup, tidak punya keyakinan
untuk melakukan sesuatu dan pada akhirnya tidak bisa
berkembang ke arah kemajuan. Ia akan berjalan di
tempat sementara orang lain berlari maju. Bahkan
sangat mungkin ia malah surut ke belakang.

Tatkala kata-kata negatif ditujukan kepada orang lain,
biasanya berakhir pada perselisihan yang tidak sehat
alias cari penyakit. Jika kata-kata negatif diarahkan
seorang kepala keluarga atau ibu rumah tangga kepada
anaknya, maka si anak bukannya akan makin rajin,
inovatif, kreatif, aktif, bersemangat untuk maju dan
memiliki kepercayaan diri yang tinggi, justeru
sebaliknya, kata-kata negatif itu malah akan
membuatnya makin minder, malas tidak bersemangat,
tidak PEDE dan tidak berani untuk melakukan ide-ide
kreatifnya. Dan pada akhirnya sang anak akan tersisih
dari percaturan dunia.

“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar
memaki; Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia
belajar rendah diri; Jika anak dibesarkan dengan
penghinaan, ia belajar menyesali diri.” Demikian
antara lain isi puisi Dorothy Law Nolte yang berjudul
“Children Learn What They Live”. Ini artinya peran
kata-kata orang di sekitar si anak akan membentuk
pribadinya ketika ia beranjak dewasa.

Prof. Emoto Masaru, seorang ahli teori gelombang telah
mengadakan penelitian sehubungan dengan kata-kata
negatif dan kata-kata positif. Ia melontarkan secara
bergantian kata-kata yang positif seperti Hebat, Kamu
Bisa, Terima Kasih, Aku Sayang Kamu dsb, serta
kata-kata negatif seperti Goblok kamu, Saya tidak
bisa, Menyebalkan, dllsbg, di atas permukaan air.
Kemudian dengan suatu alat khusus ia mengamati citra
yang dibentuk air sebagai akibat dari lontaran
kata-kata tadi. Ternyata kata-kata negatif membentuk
suatu citra yang rusak, tidak beraturan dan tidak
estetis. Sebaliknya kata-kata positif membentuk suatu
citra yang teratur rapi, beraturan dan bernilai
estetika tinggi. Jika jiwa manusia dianggap sebagai
air ( toh bahan dasar manusia memang air), maka
pengaruh kata-kata positif atau kata-kata negatif akan
membentuk citra yang kira-kira sama dan tidak jauh
berbeda pada hati dan jiwanya. (sumbernya mungkin
kurang jelas, saya dapat dalam suatu sesi pendidikan
di LG)

So, tidak perlu lama-lama menunggu datangnya petaka di
akhirat bagi orang-orang yang biasa mengumpat dan
mencela serta memaki, sebab di duniapun ia akan
berhadapan dengan petaka psikologis yang menimpa
dirinya atau orang-orang terdekatnya sebagai akibat
dari kata-kata negatif yang diucapkannya.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.”
(Q.S. Al-Humazah : 1)

Setelah kita ketahui betapa sangat berbahayanya
pengaruh kata-kata negatif bagi jiwa dan hati kita,
maka kini tinggallah menetapkan pilihan pada tiap-tiap
diri, apakah ia akan meneruskan kebiasaannya dengan
kata-kata negatif tersebut dan menggantinya dengan
kata-kata positif yang akan mengobarkan semangat,
membentuk kepercayaan diri, membangun kekuatan jiwa,
menguatkan pengendalian emosi, dan pada akhirnya akan
membentuk dirinya secara utuh sebagai manusia yang
bertutur dengan tutur kata yang telah digariskan oleh
Allah SWT. Manusia itu adalah hewan yang berbicara dan
berkomunikasi, kekerdilan diri ataupun kebesaran
jiwanya akan tergambar jelas dari apa yang ia ucapkan
dan dari ucapan-ucapan yang biasa ia terima. Maka
orang besar hanya akan menjadi besar jika ia biasa
mengucapkan kata-kata positif dan menerima kata-kata
positif pula. Apatah lagi jika yang positif itu tidak
hanya sebatas kata-kata, namun juga aplikasi cara
hidup sehari-hari.

“…Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil
harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang
baik (ma’ruf)”. (Q.S. An-Nisa : 5). Lihat juga
Al-Baqarah : 83; An-Nisa : 8; Al-Israa : 23-24;
Al-Ahzab : 32; Thaa Haa : 44; Al-Furqaan : 63.

Bagi Anda yang telah terbiasa mengucapkan katakata
positif, baik terhadap diri ataupun terhadap
orang-orang di sekitarnya, saya ucapkan selamat,
karena Anda telah memiliki modal dasar untuk menjadi
orang besar. Bagi yang biasa mengucapkan kata-kata
negatif, saya yakin ia bisa berhenti kapanpun ia
kehendaki, dan mulai dengan kata-kata positif untuk
membangun kebesaran jiwanya. Seperti kata pepatah
“Mulutmu Harimaumu”. Wallahu a’lam.


Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan
tenang

Oleh : Ahmad Sopiani

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Februari 2008 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,

8 responses to “Orang Besar Dibentuk Kata-kata Positif

  1. echa

    19 Agustus 2008 at 5:55 am

    LAYAKNYA MENDAPAT CAHAYA DI RUANG HAMPA itu kata yang mewakili rasa syukur setelah membaca artikel ini.
    aku merasa lebih positif dalam segala hal

     
  2. siswan

    24 September 2008 at 6:06 am

    tanggung jawab kita untuk senantiasa menyemainya dalam peradaban

     
  3. Ka Ros

    24 November 2008 at 11:49 am

    Woi nanas….nasi goreng….itu kasar gak pin?

     
  4. Pian

    18 Mei 2009 at 7:39 pm

    Assalamu’alaikum.

    waah.. senang rasanya kalau tulisanku disukai orang dan bisa bermanfaat..

    salam kenal. tetap semangat berkarya !

    Sopian

     
  5. Saiful Adi

    2 September 2009 at 9:06 pm

    Sebuah artikel yang dapat menyadarkan…..bagi yang selama ini nganggap remeh kata-kata negatif

     
  6. mark yahitoe

    6 April 2010 at 1:14 pm

    mkch atas artikel nya.
    ku jd srdikit percaya diri menghadapi semua ini.

     
  7. tanlee

    28 Desember 2010 at 10:41 am

    i like this,could you follow my site

     
  8. tan

    23 Januari 2011 at 5:38 pm

    nice posting……….could you follow my site…..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: