RSS

Kedunguan Kasta vs Komitmen Perjuangan

25 Feb

(Tulisan Alm. Ustd. Rahmat Abdullah)

Pada suatu hari lewatlah seseorang di depan Rasulullah SAW. Beliau bertanya kepada seseorang disampingnya: “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?”

Orang itu menjawab: “Ia lelaki golongan terhormat. Demi ALLAH,
seandainya meminang pastilah diterima dan bila memberi pembelaan pasti
dikabulkan”. Lalu Rasulullah SAW berdiam. Kemudian melintaslah
seseorang. Rasulullah bertanya kepada orang yang disampingnya tadi: “Bagaimana
pandanganmu tentang orang ini?” Ia menjawab: “Ia muslim yang
faqir. Bila meminang pantas ditolak, bila memberi pembelaan takkan didengar
pembelaannya dan bila berbicara takkan didengar ucapannya”. Rasulullah
SAW bersabda : “Sepenuh bumi ia lebih baik daripada orang tadi (yang
pertama)” (HSR Muslim)

Ketika Da’wah ini muncul dan eksis dalam waktu yang sangat singkat,
ia telah menyatakan jatidirinya dengan jelas. Ia adalah kemenangan bagi siapa saja
yang mau berjuang, tidak peduli anak siapa dan berapa kekayaan bapaknya.
Ia tidak peduli penolakan Bani Israil pasca nabi Musa AS ketika
nabi mereka menyatakan bahwa Thalut yang miskin
telah dipilih ALLAH untuk menjadi pemimpin mereka (Qs.2:247). Ia tidak juga
memanjakan ‘kesombongan intelektualisme’ kaum nabi Nuh AS yang mencap Nuh
hanya diikuti oleh ‘orang-orang rendah, yang dangkal fikiran’ (aradziluna.
badia’r ra’yi, tidak kritis, Qs. 11:27). Bahkan ia pun tak
sungkan-sungkan menegur keras nabinya karena ‘logika prioritas’ yang
dibangunnya menyebabkan Abdullah bin Ummi Maktum ‘nyaris tertinggal’.
Alqur-an menyebutkan “Ia telah bermasam muka dan berpaling, ketika
datang kepadanya hamba yang buta” (Qs. 80:1-2).

Siapa yang tak kenal keutamaan keempat khalifah dan beberapa tokoh legendaris di kalangan para
sahabat? Namun, carilah dimana nama mereka terpampang dan bukan hanya sifat,
selain Zaid, RA (Qs.33:37)? ‘Kelas’ inilah yang diakui sebagai kekuatan
yang dengan mereka “kalian diberi rezki dan dimenangkan”. (HSR Bukhari)

Pungguk Mengaku Duduki Bulan

Demi kepentingan mereka, bahkan Dzulqarnain mengoreksi salah kaprah yang merugikan mereka sendiri.
mereka berkata: “Wahai Dzulqarnain, maukah Engkau kami beri upeti, agar mau
membangunkan tembok (benteng) yang dapat melindungi kami dari (serangan)
mereka?” Ia menjawab; “Kedudukan yang ALLAH telah berikan
kepadaku itu lebih baik. Cukuplah kalian membantuku dengan kekuatan, aku
bangunkan benteng yang kuat, memisahkan antara kamu dan mereka” (Qs.18:94-95) .

Tanpa pembinaan dan penataan yang benar kelas ini akan menjadi
kekuatan destruktif yang dikendalikan tangan-tangan berdarah.
Dendam kemiskinan kerap membuat orang melahap
fatamorgana. Mereka melahap tuduhan bahwa masyarakat tak peduli kepada derita
mereka, lalu menyambut lambaian para penipu yang akan menunggangi mereka. Kalau
para kader hanya mencemooh dari jauh kelicikan para tengkulak yang
memperdagangkan kemiskinan dan melahap begitu banyak hak masyarakat miskin,
tetaplah roda kemenangan berpihak kepada angkara murka

Banyak orang kaya baru (OKB) berlomba-lomba memamerkan kekayaan mereka
dan politisi dari partai-partai baru yang mencaci-maki partai tiran dan korup sebelumnya.
Tetapi ajaib, mereka menjadi begitu norak, kemaruk dan lebih ‘ndeso’ dari para
pendahulu.. Orang kaya merambat tak perlu waktu adaptasi. Orang kaya mendadak
benar-benar perlu belajar membawa diri. Tetapi orang kaya turunan dan orang kaya
mendadak sama-sama perlu memahami dan mengingat kembali kemiskinan, betapa pun
pahit

Kader yang menyikapi jabatan yang diterimanya lebih sebagai amanah dari pada kehormatan,
akan dengan cepat belajar menyesuaikan diri dan memahahami karakteristik tugas dan
tantangannya. Bawahan yang lebih pandai, diakuinya dan didorongnya untuk cepat
menggapai posisi yang lebih sesuai. Mereka berendah hati, karena memang tak
takut jatuh dengan merendah. Sebaliknya mereka yang bagaikan senior perpeloncoan
yang kerap bermasalah dalam IP mereka, sering menampakkan gejala ketakutan ‘disaingi’

Perasaan berkasta tinggi.

Melecehkan orang yang mereka anggap berkasta lebih rendah. Menelikung siapa saja
yang di luar koneksi. Mengkoptasi semua demi keharuman citra diri. Memecahkan
masalah dengan menyalahkan orang lain. Melapor segalanya beres tanpa ada yang
dibereskan

Hal paling berat bagi kader yang berorientasi kekuasaan atau dunia ialah
usaha untuk mendengarkan dan memahami. Mereka lebih suka didengar, difahami dan dimaklumi.
Tak ada kemajuan dalam prestasi kecuali seni membuat-buat alasan. Karena otak tak bekerja kerap,
mereka lebih suka menggunakan lutut. Muncullah kader-kader ‘gagah’ dengan
mengimitasi tampilan serdadu, bukan meningkatkan etos, disiplin dan kehormatan
jundi sejati. “Army Look” adalah kebanggaan mereka yang ingin
diterima tanpa harus mengajukan dalil, yang penting orang takut dan nurut

Kader Sejati

Pepatah lama menyadarkan kita betapa pentingnya mendengar.
“Ta’allam husna’l Istima’ kama tata’allam husna’l Hadits” (Belajarlah cakap mendengar sebagaimana engkau be-lajar
untuk pandai bercakap).

Para ‘penjaja’

Fasad telah begitu lihai menggeser cita-rasa masyarakat. Mereka membentuk
identitas ABG dengan segala asesori termasuk bahasa. Mereka bentuk mental
attitude-nya sendiri dan bahasa gaulnya sendiri. Seluruh sasaran bahasa
adalah penjungkirbalikan kemapanan. Dan agama adalah bagian yang dianggap
kemapanan. Bahasa lebih fasih dari pada bahasa Islah. Ada bahasa gaul untuk remaja,
ada bahasa gaul untuk tua-bangka dan ada bahasa gaul untuk preman, morfinis dan kriminal
lainnya

‘Ala Man Taqra’ Zabura ?!” (Kepada siapa Anda Bacakan Zabur?),
adalah sindiran tajam bagi da’i yang asyik menyusun kata dan menikmatinya sendiri,
tanpa peduli apakah komunikannya dapat mengerti. Dalam pertarungan
memperebutkan pendukung, ada kekuatan berhasil meyakinkan calon pendukungnya
dengan idiom-idiom tipuan yang memukau rakyat. Ada yang dengan jujur meneriakkan
visi dan misi mereka, tetapi tidak cukup sampai ke telinga batin mereka.

Banyak kondisi menipu (Zhuruf Muzayyafah>), yang kerap membuahkan kekecewaan.
Sesudah iman, ikhlas dan pengenalan konsep serta medan, kemampuan transformasi fikrah
dan menangkap gejolak arus bawah mutlak perlu dipertajam. Pesan-pesan penyampaian dengan
berbagai pendekatan, patut dibiasakan;
1. Khathibu’n Nas ala Qadri uqulihim (Serulah masyarakat sesuai dengan kadar akal mereka),
2. Khathibu’n Nas bilughati qaumihim (Serulah masyarakat dengan bahasa kaum mereka),
3. Anzilu’n Nas manazilahum (Dudukkan masyarakat menurut kedudukan mereka).
Karena da’wah bukanlah obral candu, perlu diuji ulang,
cukup tajamkah telinga ini mendengar krucuk perut yang hanya berisi angin.
Cukup sensitifkah mata memandang seorang akh yang
membisu dalam kelaparannya yang sangat dan isterinya yang gemetar menanti rizki
yang datang dengan sabar. Masihkah ada waktu muhasabah sebelum tidur, menyusuri
wajah demi wajah, adakah yang belum tersantuni. Atau menelisik kader yang hanya
diberi sanksi, tanpa seorang pun tahu, tiga hari ini ia tak punya tenaga karena
sama sekali tak dapat makanan.

Ini mozaik kehidupan kita yang harus ditata menjadi serasi dan harmoni.
Malang nasib dia yang mati rasa, nyinyir menyindir kesengsaraan saudara sebagai buah kemalasan,
seraya menghabiskan bertalam-talam makanan yang tak dapat lagi memenuhi rongga perutnya.
Bagaimana ia dapat memahami gelombang besar rakyat jelata yang bagai singa terluka,
menanti kapan saatnya menerkam dengan penuh murka.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Februari 2008 in artikel pilihan

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: