RSS

KISAH PAK TANI

27 Feb

Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan
seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang
sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak
seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut
menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.

Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: “Wahai Pak
tani, sungguh malang nasibmu!”.

Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu ”

Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya,
dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang
tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah
perkasa. Orang-orang dari kampung berbondong datang dan segera
mengerumuni “koleksi” kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan
kagum. Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut
dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun
menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar
untuk berkebun membantu kuda tua nya.

Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak
tani, sungguh beruntung nasibmu!”.

Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu ”

Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha
menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat,
sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.

Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: “Wahai Pak
tani, sungguh malang nasibmu!”.

Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu ”

Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah
kakinya. Perlu waktu lama hingga tulangnya yang patah akan baik
kembali. Keesokan harinya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa
itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan
raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh
pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak
Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.

Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya
bertempur, dan berkata: “Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!”.

Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu ”

Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-
judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami
rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa-apa
yang kita sebut hari ini sebagai “kesialan”, barangkali di masa depan
baru ketahuan adalah jalan menuju “keberuntungan” . Maka orang-orang
seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk “menghakimi” kejadian dengan
label-label “beruntung”, “sial”, dan sebagainya.

Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak
tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat
perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu “kesialan”, manakala ternyata
status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya
untuk menjadi boss besar di perusahaan lain.

Maka berhentilah menghakimi apa – apa yang terjadi hari ini,
kejadian – kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas dan apapun
namanya . . . .yang selama ini kita sebut
dengan “kesialan” , “musibah ” dll , karena .. sungguh kita tidak
tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu .

“Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan
kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di
dermaga saja.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: