RSS

Sebuah Pelajaran “Batu Besar”

18 Mei

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah
tentang manajemen wakti pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat
ia berdiri di depan kelas dan berkata, “Ok, sekarang waktunya untuk
quiz.” Lemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkanya
di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar
kepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup
untuk dimasukkan kedalam ember. Ia bertanya pada kelas, “Menurut
kalian, apakah ember ini telah penuh?”

Semua mahasiswa serentak menjawab, “Ya!”

Dosen berkata kembali, “Sungguhkah demikian?” Kemudian, dari dalam
meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan
kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu
sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong
di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas,
“Nah, apakan sekarang ember ini sudah penuh?”

Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, “Mungkin tidak.”

“Bagus sekali,” sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir
dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi
celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya
pada kelas, “Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”

“Belum!” sahut seluruh kelas.

Sekali lagi ia berkata,”Bagus. Bagus sekali.” Kemudian ia meraih
sebotol air dan mulai menuangkan air kedalam ember sampai ke bibir
ember. Lali ia menoleh ke kelas dan bertanya, “Tahukah kalian apa
maksud ilustrasi ini?”

Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata,
“Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita
mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya. ”

“Oh, bukan,” sahut dosen, “Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari
ilustrasi ini mengajarkan pada kita bahwa bila kita tidak memasukkan
“batu besar” terlebih dahulu, maka kita tidak akan bisa emasukkan
semuanya.”

Apa yang dimaksud dengan “Batu Besar” pertama kali dalam hidup kita
akan kehilangan semuanya. Bila kita mengisinya dengan hal-hal kecil
(semacam kerikil dan pasir) maka hidup kita akan penuh dengan hal-hal
kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan
demikian kita tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya kita
perlukan untuk hal-hal besar dan penting.

Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika merenungkan cerita
pendek ini, tanyalah pada diri kita sendiri “Apakah BATU BESAR dalam
hidup kita?” Lalu kerjakan itu pertama kali.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Mei 2008 in Uncategorized

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: