RSS

Dinamika Sosial Budaya PKS

19 Mei

oleh:
Sapto Waluyo
Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform

Banyak pengamat mencermati kebangkitan Partai Keadilan Sejahtera sebagai
bukti kemampuan partai politik (parpol) Islam untuk mengemas isu-isu publik,
semisal antikorupsi dan pelayanan sosial.

Padahal, selama ini parpol Islam dan partai berbasis agama pada umumnya,
terpenjara isu-isu religius dan ideologis. Kemenangan PKS bersama mitra
koalisinya dalam pemilihan kepala daerah terkini di Jawa Barat (PAN) dan di
Sumatera Utara (PPP dan PBB) menunjukkan partai Islam bisa menandingi partai
nasionalis dan menangkal pragmatisme dalam derajat tertentu.

Analisis pengamat lebih terfokus pada efektivitas mesin politik atau
popularitas kandidat.Belum ada yang secara serius menelaah faktor
sosial-budaya. Kebangkitan PKS didukung lahirnya generasi baru di era
transisi (1998–2008). Generasi ini telah mematahkan ambisi para elite status
quo.

Kita bisa menyebutnya generasi AAC (Ayat-ayat Cinta)—meminjam fenomena
budaya terkini, sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazi yang terjual
450.000 kopi dan filmnya ditonton hampir 4 juta orang. Generasi ini
dicirikan sifat kosmopolitan,semisal Fahri, yang kuliah di Universitas
Al-Azhar (Mesir) dan bergaul dengan kawan berbeda latar: Kristen Koptik
(Maria), modern Turki (Aisha), tradisional Arab (Naora), selain akrab dengan
gadis Indonesia (Nurul).

Terlepas dari alur cerita AAC yang melankolis, hingga Presiden SBY
menitikkan air mata ketika menontonnya, kisah Fahri adalah sublimasi dari
pengalaman nyata ribuan kaum muda Indonesia yang kuliah/bekerja di
mancanegara.Apa hubungannya dengan PKS? Pertama,pendiri PKS adalah kaum muda
yang menikmati berkah pendidikan di era Orde Baru, sebagian di antara mereka
alumni mancanegara.

Berbeda dengan tesis Sadanand Dhume (Yale Global Online, 1 Desember 2005)
yang menyebut PKS sebagai ancaman nasional, lebih berbahaya lewat suara
(ballot) ketimbang senjata (bullet).Dhume yang mantan wartawan Far Eastern
Economic Review
itu berkesimpulan PKS adalah partai radikal karena kadernya
kebanyakan alumni Timur Tengah. Itu konklusi menggelikan karena sebagian
besar pimpinan PKS bukan alumni Timur Tengah.
Ada yang lulusan perguruan tinggi di Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
Presiden pertama PK, Nur Mahmudi Ismail adalah alumni Universitas Texas.
Presiden kedua,Hidayat Nur Wahid,memang alumni Universitas Madinah. Presiden
pertama PKS yang jarang disebut orang, Muzammil Yusuf, produk asli
Universitas Indonesia, walau sempat kursus bahasa Inggris di Australia dan
kursus bahasa Arab di Mesir.

Presiden ketiga PKS, Tifatul Sembiring, yang menggantikan Hidayat, tercatat
sebagai alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Trisakti. Dengan formasi seperti
itu,terbantahkan pandangan yang menyebut PKS “partai fundamentalis”lantaran
pimpinannya lulusan Timur Tengah, seperti simpulan Walter Lohman (The
Heritage Foundation, 28 April 2008) yang mengikuti logika dangkal Dhume.

Simpulan lebih masuk akal adalah kecenderungan kosmopolitanisme PKS amat
kuat karena tergolong generasi yang terpapar informasi global. Saat ini,
sebagian kader PKS menyebar di berbagai negara Eropa, selain ada yang kuliah
di Australia, Singapura,dan Taiwan. Fakta kedua, penulis novel AAC
Habiburrahman eEl -Shirazy termasuk lingkungan dekat PKS.

Kang Abik yang menjadi guru di pesantren di Jawa Tengah itu mengakui
kedekatannya dengan komunitas tarbiyah amat berperan dalam proses
kreatifnya. Habib tercatat sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP),
asosiasi penulis muda yang beranggotakan 2.000 penulis tersebar di 125 kota.
Menurut Taufik Ismail, “FLP adalah laboratorium penulis muda terbesar dalam
sejarah sastra Indonesia.” Tentu saja FLP tak berhubungan secara
organisasional dengan PKS karena sifatnya nonpartisan.

Namun,publik mengetahui kader dan simpatisan PKS sangat aktif membentuk
lembaga sosial dan asosiasi profesional di berbagai bidang. Perluasan
pengaruh lembaga itu pada gilirannya menentukan pembesaran politik PKS.
Perlu dicermati secara khusus kreativitas budaya yang dipelopori PKS seperti
terwakili dalam acara milad yang diikuti 150.000 simpatisannya.

Dalam atraksi panggung tampil grup nasyid Izzatul Islam, Ruhul Jadid,
Shoutul Harakah, dan Ebiet Beat A Nasyid adalah grup acapella yang
direvitalisasi komunitas PKS sejak 1980-an. Berbeda dengan kekuatan politik
lain yang tak peduli perkembangan seni-budaya, apalagi gerakan politik Islam
modernis yang disalahpahami suka menentang tradisi,maka PKS mengemas
substansi budaya Islam dengan unik. Kreativitas mereka lebih dahsyat
dibandingkan capaian politik yang diraih dalam pemilu.

Pada 1980, awal kemunculan “nasyidpergerakan”denganteks Arab yang diadopsi
dari Mesir dan Palestina. Nasyid seperti “Ghuraba” (Kelompok Asing)
disenandungkan mahasiswa LIPIA, kampus bahasa Arab yang disponsori Kedubes
Arab Saudi.Anis Matta (Sekjen PKS) dan Ulil Abshar Abdalla (pendiri Jaringan
Islam Liberal) termasuk alumni perguruan yang dituding pengamat asing
sebagai penyebar ideologi Wahabisme.

Sepuluh tahun kemudian, nasyid marak berwarna “populer” seperti kelompok
Snada (Jakarta) dan Suara Persaudaraan (Malang). Begitu ngetopnya Snada
hingga diundang DPP PDIP saat meresmikan Baitul Muslimin. Di samping
kelompok domestik tumbuh subur, grup nasyid Raihan asal Malaysia juga
berebut pasar Indonesia. Penggemar nasyid semakin luas kemudian membuka
pasar baru bagi kemunculan lagu rohani.

Sulis dan Haddad Alwi dengan salawat Nabi serta Opick dengan pop religius.
Pascareformasi, tampil “nasyid cadas” dipelopori Izzatul Islam (Depok). Tema
lagunya seputar perjuangan warga di daerah konflik Maluku,Poso, dan Aceh.
Gelombang nasyid cadas yang mengentak-entak dengan suara perkusi dilengkapi
Ruhul Jadid (Depok) dan Shoutul Harakah (Bandung).

Karakter PKS mengkristal dan mencapai kulminasi dalam Pemilu 2004. Sejak itu
perkembangan nasyid bergulir cepat, sehingga muncul genre alternatif. Ada
nasyid parodi (Gondes Semarang) yang mengadopsi teknik Project P.Nasyid
“klangenan” seperti Justice Voice (Yogyakarta) dan nasyid rap berbahasa
Sunda (Ebiet Beat A dari Bandung).

Nasyid rap-Sunda ini dari sudut pandang sosial-budaya turut mengangkat
popularitas pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih Jawa Barat, Ahmad
Heryawan-Dede Yusuf. Komunitas PKS telah menembus sekat budaya yang selama
ini mengerangkeng partai Islam atau partai berbasis agama. PKS menjadi
contoh, betapa partai politik dapat membangun basis sosial baru dan
menawarkan wawasan budaya alternatif. (*)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2008 in Uncategorized

 

Tag: ,

One response to “Dinamika Sosial Budaya PKS

  1. fitri

    28 Mei 2010 at 4:22 pm

    Semoga PKS terus istiqomah di jalan islam.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: