RSS

Merindukanmu…

05 Agu

Hari ini, sebenarnya saya tidak ingin memposting apa-apa, karena hari ini libur, rencananya akan ke Mangga Dua untuk men-service notebook yang “bermasalah”. Tapi seorang teman menawarkan bantuan untuk “membereskannya” nanti malam, maka jadilah saya di rumah saja siang ini. Sambil menunggu, saya buka-buka majalah Tarbawi lama, tidak berapa lama sampai kepada tulisan Allahuyarham Ustadz Rahmat Abdullah di rubrik Asasiyat yang bertajuk “Berkata Benar”. Tak terasa saya kesedihan menyeruak di hati.

Masih teringat ketika pertama kali membaca tulisan ini, di sebuah bus kota dalam perjalanan menuju kantor, magang, waktu itu belum lulus kuliah (Oktober 2002). Waktu itu terasa biasa saja walaupun memang sedikit termenung merenungi makna kata demi kata dari isi tulisan ini (waktu itu sang penulis masih hidup). Namun, hari ini terasa berbeda karena menyadari sang penulis sudah tiada.

Maka saya putuskan untuk men-scan artikel ini, edit sebentar, dan men-share untuk kita semua disini. Sungguh tulisan ini dihasilkan, dan merupakan buah karya dari seorang yang tulus hatinya, bersih jiwanya, luas pandangannya, dan cerdas pikirannya. Sehingga ada rasa rindu yang begitu dalam menyelimuti hati ini. Ya, sekali lagi saya merindukanmu wahai ustadz. Mari sama-sama kita hayati dan resapi dalam-dalam makna setiap kata dan kalimat dalam tulisan ini, dan coba berkaca pada diri kita sendiri.

BERKATA BENAR

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. AI-Ahzab 70)

Oleh KH. Rahmat Abdullah

Ya, sekarang tak ada waktu lagi untuk berbasa-basi. Perang di segala bidang telah mencengkeram, merambah dan melumpuhkan seluruh jaringan saraf ummat. “Mereka akan ­terus selalu memerangi kamu sampai berhasil mengembalikan kamu dari ­agamamu, bila mereka mampu melakukannya…” (QS.AI-Baqarah:217).

Ayat yang bergaung kencang ini tak tertangkap pesannya oleh kebanyakan telinga zaman. Bukan tubuh ummat yang lemah, tetapi jiwa mereka yang ringkih. Terserah, apakah perang ini akan disambut secara fisik atau dengan apalah, yang jelas ia telah berkeca­muk jauh di dalam relung hati kita. Banyak yang ditawan, selain yang terluka dan mati.

Jiwa yang luka, tertawan dan mati, wujud dalam angka-angka hutang luar negeri yang fantastik, jutaan pemuda yang bergelimang madat, terpuruk di ranjang kematian oleh AIDS, rumah-tangga yang hancur oleh zina di seluruh atau sebagian besar elemennya. Perang apa yang dapat kita lakukan sementara barisan terbengkalai, bertikai-pangkai dan para komandan mabuk dunia?

Perang Istilah

Betapa kebencian telah memenuhi lidah mereka dan apa yang disembunyikan hati mereka jauh lebih besar (QS. Ali Imran: 118). Seorang pemerhati menghitung, bagaimana seorang psikolog rohaniawan di Jawa Barat, selalu menyebut nama-nama Ahmad dan setaranya untuk contoh figur yang buruk dan menyebut nama Dadap dan Waru bagi yang positif, dalam ratusan tajuk di surat -kabar benalu yang berkarakter sama dengan tampilan elegan dan bermartabat. Masyarakat pengguna bahasa menerima begitu saja idiom-idiom tanpa menyadari dendam dan kebencian apa yang melatar-belakanginya atau kebodohan yang melandasinya.

Di zaman Rasulullah SAW, kaum Yahudi kerap memanggil beliau deng­an Raina. Dalam bahasa Arab artinya ‘Perhatikan kami’, sementara mereka memaksudkannya ‘engkau gila’ deng­an memendekkan Ra. Maka, Allah melarang kaum beriman mengatakan kalimat-kalimat bermakna ganda dengan tujuan negatif tersebut (QS. Al-Baqarah: 104). Karenanya, demi menjaga diri agar tidak menjadi keledai dungu sebaiknya publik tak lagi menggunakan idiom-idiom menyesatkan seperti -di antaranya- berikut ini.

Sunat. Ejekan dalam idiom baru, ketika menyebut perampokan gaji pegawai negeri atau bantuan sosial dengan sebutan sunat. Apa hubungan sunat atau khitan sebagai sebagian dari sifat-sifat fitrah (khishalul fithrah) dari bapak para nabi, Ibrahim AS, dengan perampokan atau korupsi yang begitu jahat dan telah menyeng­sarakan bangsa ini? Terlalu gegabah mengana­logikan pemotongan gaji guru tanpa hak deng­an pemotongan sedikit bagian tubuh, sebagai pelaksanaan syari’ah.

Angin surga. Entah atheis mana yang melun­curkan istilah ini, untuk ungkapan dusta, janji palsu dan sejenisnya. Mungkinkah disamakan dusta pejabat yang membuai rakyat dengan janji-janji kosong, dengan angin surga yang memang haq. Angin yang menghembus daun­-daun surga, menimbulkan suara yang lebih merdu dari musik mana pun. Membuat siapapun yang menderita seumur hidupnya di dunia, akan mengatakan tak pernah merasakan derita, selain senang dan bahagia, hanya dengan satu hembusannya yang menghapuskan segala lelah dan melenyapkan semua takut.

Sah-sah saja. Mereka gunakan istilah ini bagi kesetaraan hak untuk bersikap atau mengung­kapkan pikiran dan perasaan. Bagaimana mung­kin klaim sah-sah saja dibiarkan bergulir untuk cinta sejenis, seks bebas, selingkuh dan berbagai jenis kefasikan. Beradablah wahai peminjam kata, karena sah itu istilah Islam untuk segala hal yang mencukupi syarat dan rukunnya. Dari sudut mana berkata fasik, bertindak maksiat dan melecehkan agama disebut sah-sah saja?

Paman Sam. Sebegitu banggakah dunia memanggil mereka paman? Yang selama sete­ngah abad lebih melindungi Zionis merampasi tanah Palestina? Yang berpesta arak di jalan-­jalan seluruh negeri dengan kegembiraan luar biasa, saat Hasan Albanna dibunuh? Atau yang membesarkan seorang belia dinasti Saudi di California, kemudian sang anak pulang mem­bunuh pamannya (Alm) Raja Faisal, di hari 12 Rabiul Awal hampir 30 tahun lalu? Fakta hari ini membuka peluang keponakan yang marah memelintir nama besar ini menjadi negeri Pa­man Racun (Samm; racun, Arab) yang dipe­rintah presiden-presiden Bush.

Wanita Tuna Susila, Kupu-kupu Malam, Wanita Panggilan. Mengapa hanya perempuannya dise­but pelacur dan tak ada sebutan pelacir bagi laki-Iaki yang menjerumuskan mereka? Sebegi­tu terhormatkah pelacur laki-Iaki dan perempu­an sehingga dinaungi HAM dan diperhalus se­butan mereka? Sementara warga yang bertahan dari pembantaian, penghancuran rumah ting­gal, kedai dan masjid mereka, disebut teroris?

Idola. Kita sangat mencintai Rasulullah SAW, tetapi tidak menjadikannya idola (idol), alias berhala atau sembahan. Kecuali bila itu khusus bermakna bayang-bayang di cermin. Dan itu ta’wil yang jauh. Terlebih-lebih meng­idolakan selebriti.

Mubadzir Istilah

Demikianlah seharusnya penghematan dilakukan atas idiom-idiom salah urus, kebo­coran dana atau penyimpangan. Katakan itu korupsi dan perampokan. Publik mungkin sulit mengembalikan waria ke asal istilahnya: banci. Atau menggantikan sebutan petawur, dengan pembunuh massal yang pengecut. Atau istilah bantuan luar negeri dengan hutang berbunga.

Mereka telah jadi pemenang dalam perang opini. Hutan-hutan kita tak lagi cukup memasok kertas pelajaran, karena habis oleh koran dan majalah bugil. Karenanya jangan ditambah lagi dengan istilah-istilah mubadzir.

Demikian pula terhadap lagu-Iagu dengan arti ganda: dengan makna sejati atau menjurus ­jurus porno. Bahkan nasyid yang tak membang­kitkan ruhul jihad, tak mengangkat kemuliaan nama Allah, kecuali goyangan yang tak pas bagi kemuliaan-Nya atau membangkitkan sikap khidmat kepada Rasul-Nya. Sengaja atau bodoh, sinetron sering menghalalkan berbagai perkara haram. Klaim laki-Iaki atas anak zina yang diasuh perempuan yang dizinainya sebagai anak sendi­ri dengan akting yakin dan dukungan hukum, adalah sosialisasi penghalalan zina dengan segala implikasinya. la telah putuskan anak itu dari hak perwalian, perwarisan dan penghubung­an nama pada namanya, dengan bin atau binti.

Di buku-buku pelajaran sekolah, bukan lagi saat membiarkan kalimat. ‘Alam telah memberi­kan kita dzat antibody untuk mengusir benih­-benih penyakit” dan sejenisnya. Kesombongan ilmiah terbukti telah menghasilkan angkatan salah tingkah atau generasi arogan. Jangan lagi cinta dijadikan tuhan, yang atas namanya sepa­sang asyik-masyuk bunuh diri karena dihalangi orang tua. ‘Cinta tak membedakan suku, bangsa, warna kulit, kelas sosial’, memang dapat diteri­ma. Tetapi menambahkan ‘Tak membedakan agama‘, adalah jerat iblis yang terbukti berhasil memurtadkan banyak remaja oleh buaian birahi yang dikemas jubah cinta dan direstui diam­-diam sebagai sarana penyebaran agama sesat.

Kekosongan aktifitas penanaman nilai-nilai dasar, kesibukan yang sangat berlebihan di de­pan layar kaca hiburan, kemudahan hidup yang berorientasi asal senang, ketidakpedulian orang tua, telah menjadi pupuk penyubur yang kelak akan menghasilkan panen besar kegamangan hidup. lahirlah budak-budak nafsu yang kehi­langan taqwa dan malu.

Karenanya, dakwah menuju Allah adalah semulia-mulia ucapan. Kecemerlangan ma’rifah kepada Allah, pengenalan identitas diri sebagai ummat pemilik aqidah, risalah, visi, missi dan tradisi, adalah password menuju kebangkitan.

Edisi 46 Th. 4/Sya’ban 1423 H/24 Oktober 2002 M

Tarbawi for nasruni.wordpress.com

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Agustus 2008 in artikel pilihan

 

Tag: , , , , , , ,

2 responses to “Merindukanmu…

  1. Rindu

    8 Agustus 2008 at 3:25 am

    ah nama saya disebut ….

     
  2. masroh

    20 Agustus 2008 at 1:39 pm

    betul betul betul betul

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: