RSS

Bukit Cahaya

25 Agu

Ketika ia diturunkan pertama kali, kebanyakan pendukungnya adalah orang-orang yang tak dikenal, para budak dan orang-orang miskin. la mendobrak kebiasaan lama, saat sejarah hanya peduli pada orang-orang ningrat, raja-raja dan anak-anak raja. Nabi-nya ummi, buta huruf, untuk suatu hikmah yang dijelaskannya sendiri. (QS. 29:48).

Namun dengan ketulusannya yang luar biasa, kesabarannya yang di atas rata-rata dan optimismenya yang melampaui batas-batas harapan orang biasa, ia menjadi akhlaknya, seperti jawaban Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu’anha: Akhlaqnya adalah AI-Quran.

Beberapa orang kaya dengan pengalaman perjalanan ke mancanegara, kebiasaan berdagang dalam suasana merdeka dan fikiran jernih asli dalam kemasan fitrah, telah menjadi pendukung, pendana bahkan pelaksana langsung bagi da’wah yang diberkati ini. Sejak pertama ia telah bersentuhan dengan politik, walau tak seorangpun di antara mereka mengambisikan kekuasaan atau menjadi sombong ketika musuh bertekuk lutut di bawah kilatan pedang kebenaran. Para budak yang lama disiksa dan tumbuh dalam penderitaan, kelak menjadi wali negeri dan gubernur. Mereka sama sekali tak terhanyutkan dendam kemiskinan maupun dendam penindasan yang kerap menghinggapi bagitu banyak pemburu kekuasaan. Makhluk yang terakhir ini tak jarang menjadi mangsa-mangsa baru seperti para pendahulu yang mereka jatuhkan.

Dibawah naungannya tak ada lagi orang yang merasa hina karena kemiskinan, sombong karena kekayaan atau gentar menghadapi kematian. Hidup dibawah Naungan Al Qur’an adalah nikmat, tak ada yang mengetahuinya kecuali yang telah merasakan¬nya sendiri. Nikmat yang memberkahi, menyucikan dan mengembangkan umur (Sayyid Quthb). Hawa nafsu dan syaithan telah menjadi hal yang paling dihindari, setelah pengenalan kepada Allah menjadi landasan utama kehambaan. Alangkah indahnya kemiskinan yang membuat pemiliknya bersabar. Alangkah nikmatnya kekayaan yang membuat pemiliknya bersyukur. Alangkah menyenangkannya kekuasaan yang membuat penyandangnya berlaku adil.

Allah teIah mengangkat dengan AI Qur’an sebagian manusia dan la jatuhkan dengannya sebagian lainnya. Tak pernah la memberi miskin kepada seseorang karena berzakat. Atau memberinya kematian karena puasa, bahkan tak pernah memberi kematian kepada yang terbunuh di Jalan-Nya. Atau memberi keterbelakangan karena bertaqwa. Allah tak pernah kehilangan kasih sayang, sekalipun mereka lemah dan benoda. Tak pernah kehilangan ketegasan walaupun mereka cantik, tampan, pintar dan kaya. Tak pernah mundur dan absen berapapun jumlah musuh-Nya dan sendirian-Nya. la berikan peluang setiap hamba untuk mengutuhkan kehambaannya dengan sukarela sebagaimana alam raya telah la pilihkan sikap suka rela itu (QS. 41;11). la berikan kepada air sifat mengalir, kepada udara sifat berembus, kepada api sifat menjulang lidah dan kepada galaksi sifat keseimbangan.

Dalam akal yang la berikan mereka bebas memilih benar dan baik. Dengan nafsu yang la tanamkan mereka nikmati hidup. Di antara banyak pilihan mereka berjuang. Ada yang tumbang dan ada yang menang. Bagi mereka yang mengandalkan indera dan berjalan mengekor nafsu, onak dan duri bertaburan sepanjang jalan ke surga dan segala wangi sepanjang jalan ke neraka.

Tak ada efek tarbiah sedalam tarbiah generasi AI-Qur’an. Ia perkenalkan kata Saraab (fatamorgana, QS. 24;39), gunung-gunung yang berarak seperti awan (QS. 2:88 ) dan mota’ul ghurur (benda-benda yang menipu. QS. 3;185) sebagai koreksi total pandangan materialistik. la pindahkan poros kehidupan dari geIas khamr, perempuan, musik, kuda dan pundi-pundi emas, menuju kerja besar membangun dunia, persaudaraan yang adil, penghormatan akan hak laki-Iaki dan perempuan dan membangun dengan ethos akhirat. la cintakan agama ke hati ummat manusia setelah rohbaniyah (kerahiban) memadamkan gairah hidup dan menjauhkannya dari nilai-nilai keimanan dan menjadikan keshalihan sebagai hal yang tak tersentuh.

Hidup membujang menjadi pendekatan diri (taqarrub) kepada Tuhan dan pelakunya menduduki kasta tinggi dan memperoleh hak-hak istimewa. la dorong rakyat menuntut haknya dengan berani dan ia ajarkan kepada para pemimpin, bahwa mereka pelayan rakyat dan pemimpin dalam pengabdian kepada AIlah dan penegakan syariah-Nya. Ia ajarkan kemuliaan perempuan yang begitu besar karena pengorbanan mereka sejak hamil sampai membesarkan generasi, menjadi mitra penenteram kehidupan laki-laki dari kegalauan dan kegelisahannya. Madrasah utama sebelum bangunan-bangunan tak bernyawa menjadi strata lanjut pendidikan mereka.

Dalam hal penghancuran ketenteraman rumah tangga hari ini para isteri meneriakkan seruan klise perempuan seberang pengidap dendam kepada kekasih gelap yang berselingkuh; Fight, Fight! Fight! lawan para suami dan tolak hak reproduksi, seakan suami itu adalah musuh yang harus diperangi.

Dalam pembantaian sesama, mereka rela bekerjasama dengan musuh-musuh ummat Dan lupa akan pesan Muslim saudara muslim, ia tak boIeh mengkhianatinya, membiarkannya (dizalimi) atau menyerahkannya (kepada musuh).

Di Bukit Cahaya itu, Rasulullah AI-Musthafa menerima malam Qadar yang mengungguli seribu bahkan beribu bulan, menggemakan Iqro’ menjadi titik tonggak perubahan peradaban manusia dan menyemai kata adil, setara, taat, merdeka, hak asasi, dan seterusnya, dalam kamus kemanusiaan yang kerontang. Tahun demi tahun malam itu senantiasa datang untuk mereka yang ingin menjadikannya nuzul selalu dalam dirinya.

Kini terurai aurat kepalsuan dan makar Zionis Yahudi, Nasrani, kaum pemuja benda dan akal picik yang bersekutu dalam koalisi Ahzab yang menggelegar. Adakah malam Qadar ummat kembali lagi dan Fajar membawa salam?

Marhaban Ramadhan datang
Di pucuk dikau kuletak damba
Datangmu menyibak kelam
Melenyap duka sengsara

Oleh KH. Rahmat Abdullah

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Agustus 2008 in artikel pilihan

 

Tag: , ,

2 responses to “Bukit Cahaya

  1. l5155st™

    25 Agustus 2008 at 1:38 pm

    Semua bercerita tentang ramadhan…semoga kelak kita benar – benar merasakan indahnya ramadhan dengan amalan yang sesuai tuntunan…

    Barakallahu Fiyk…

    Kunjung lagi sahabat…

     
  2. wi3nd

    26 Agustus 2008 at 8:53 am

    semo9a..karna harapan ituh selalu ada🙂

    nAs:
    Iya wi3nd.. semoga…
    harapan itu masih ada🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: