RSS

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

03 Okt

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun . (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda:

“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. ” (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: “Salah satu sanad yang beliau miliki adalah shahih.”)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :

1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.

Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ‘ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali “(An-Nahl: 92)

5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa merasa demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci.

Seorang Ulama salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya pada bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar:

“Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sunggguh di sepanjang tahun.”

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah, amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) ” (Al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala pada bulan Ramadhan adalah disyari’atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya; ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan sahabatnya.

Sebuah artikel tentang puasa syawal, yang mudah-mudahan menambah semangat buat saya untuk menjalankannya. Semoga bermanfaat, ada yang mau ikutan juga?

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Oktober 2008 in artikel pilihan

 

Tag: ,

13 responses to “Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

  1. Blogunik

    3 Oktober 2008 at 1:52 am

    Artikel yang bermanfaat, saya belum mulai nih shaumnya, moga beberapa hari kedepan dah bisa Insya Allah

    nAs:
    insya Allah, amiin..

     
  2. ayaelectro

    3 Oktober 2008 at 4:00 am

    saya udah mulai berpuasa syawal! hehe…

    nAs:
    hmmmm.. bagus.. bagus.. (kata upin)

     
  3. yodama

    3 Oktober 2008 at 1:02 pm

    puasa syawal-nya masih nunggu kalo dah pulang di jogja ajah.😀

    soale disini, masih banyak godaannya…

    nAs:
    emang skrg dimana toh mas, masih di kalimantan ya..

     
  4. Panda

    3 Oktober 2008 at 1:40 pm

    wew… lengkap banget, makasih mas🙂

    mohon maaf lahir batin, salam kenal🙂

    nAs:
    salam kenal juga mas panda,
    maaf lahir bathin juga mas..🙂

     
  5. yusranuddin

    4 Oktober 2008 at 3:55 am

    tsyukron akhi….bolehkan ana sebarin ke teman2 lain?

    nAs:
    Silahkan mas…🙂

     
  6. anto

    4 Oktober 2008 at 9:25 am

    aslm. salam ukhuwah…dan artikelnya oke ni !..ane blom mulai I A pekan depan deh….oya jgn lupa maen ke blog qite yah…waslm

    nAs:
    Salam ukhuwah,
    alhamdulillah, insya Allah..
    Ya, saya sudah maen ke blognya, bagus…
    maju terus PKS..😆

     
  7. layanglayang

    4 Oktober 2008 at 12:45 pm

    ikut pak.. tapi menyusul. insyaAllah..😀

    nAs:
    iya hayoo.. siapa lagi siapa lagi..😆

     
  8. cita-cita

    5 Oktober 2008 at 10:06 am

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Insya Allah…
    Setelah puasa ganti (qodho)

    lanjut puasa syawal nya

    syukron

    nAs:
    Wa’alaikumsalam,
    ya, kalo wanita memang harus membayar hutang yg wajib dulu…🙂

     
  9. zizah

    6 Oktober 2008 at 5:49 am

    Pak ..ijin ngopi ya….Jazakalloh sebelumnya🙂

    nAs:
    silahkan mba zizah,
    waiyyakum sesudahnya…😆

     
  10. irkham

    13 Oktober 2008 at 2:54 am

    Asslmkm.wah blm mulai puasa ki.., hehe..,
    doain smga besok udh bisa…,

     
  11. irkham

    13 Oktober 2008 at 2:56 am

    Asslmkm.wah blm mulai puasa ki.., hehe..,
    doain smga besok udh bisa…,

    nAs:
    Alaikukmussalam,
    insya Allah, sebelum syawalnya berakhir..

     
  12. wi3nd

    14 Oktober 2008 at 6:43 am

    nAs klu nda berurut setiap hari bole nda? misalna sehari puasa sehari tidak?

    nAs:
    tentu boleh wi3nd, daku pun begitu..😆

     
  13. Deni

    20 Agustus 2012 at 8:39 am

    Assalamu’alaikum…
    Subhanallah…artikel yg bagus dan sangat bermanfaat…. Sy minta ijin utk di share lg ya mas…??? JazaakAllah khoir katsiro…🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: