RSS

Antara yang Tersurat dan yang Tersirat

02 Des

Suatu kali seorang perempuan mendatangi majlis ilmu yang dihadiri oleh imam-imam ahli hadits. Di antaranya adalah Imam Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah, Khalaf bin Salim dan banyak lagi yang lain. Mereka saling menyebutkan hadits.

Satu orang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda begini…..

Yang lain menimpali: Fulan meriwayatkan seperti ini….

Yang berikutnya berkata: Hadits ini tidak diriwayatkan selain oleh Fulan.

Lagi serius berbagi hadits, tiba-tiba perempuan yang datang itu bertanya tentang bagaimana hukumnya bila seorang perempuan yang lagi haid memandikan jenazah, karena memang itu profesinya?

Semua ulama besar yang hadir waktu itu tidak ada yang mampu menjawab. Mereka jadi saling berpandangan.

Untunglah waktu itu datang Abu Tsaur, murid Imam Syafi’i. Di antara ulama yang ada di sana menunjuk ke arah beliau sambil berkata kepada perempuan tersebut: “Tanyakanlah kepada orang yang baru datang itu!”

Perempuan itu langsung menoleh kepadanya. Dan ketika sudah saling berdekatan, ia menanyakan masalah yang sudah ia lontarkan sebelumnya.

Abu Tsaur langsung menjawab: Iya boleh, tidak ada masalah. Kamu boleh memandikannya dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Utsman bin al Ahnaf, dari Al Qasim, dari Aisyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata:

“Adapun haidmu bukanlah berada di tanganmu”.

Dan berdasarkan perkataan Aisyah: “Aku pernah menyirami dan membersihkan kepala Rasulullah dengan air. Padahal waktu itu aku dalam keadaan haid”.

Abu Tsaur melanjutkan perkataannya: Apabila kepala orang hidup saja boleh dibersihkan oleh wanita haid, apalagi orang yang sudah meninggal.

Lalu dengan spontan para ahli hadits yang ada pada waktu itu berebutan membacakan hadits yang telah disebutkan oleh Abu Tsaur dari segala thuruq (jalur periwayatan) yang ada.

Telah menceritakan si Fulan kepadaku….Kami mengenalnya melalui riwayat si Fulan….Sampai akhirnya mereka mebahas berbagaimacam riwayat hadits itu.

Wanita itu berkata: “Kemana saja anda-anda sebelum ini?”

*****

Kisah ini sangat penting untuk dijadikan perhatian khusus oleh para penuntut ilmu apa pun. Bagaimana cerdasnya Abu Tsaur menghubungkan suatu masalah dengan masalah yang lain. Bagaimana beliau mampu melihat yang tersirat dari yang tersurat.

Menuntut ilmu bukanlah sekedar menghafal-hafal teks atau nash. Atau menguasai teori. Tapi jauh dari pada itu, harus paham dan faqih. Bisa menggunakan dan mensinergikan antar maklumat serta menerapkan teori-teori itu dalam kenyataan.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya seseorang memberikan tanggapan, kritikan, apalagi menjatuhkan hukuman bid’ah terhadap sesuatu, sebelum ia menyelidiki dari segala penjuru. Dicerna baik-baik. Dipikirkan, direnungkan, ditarik kesimpulan, baru melontarkan kata-kata. Bukan apa yang terasa langsung berhamburan dari mulut.

Jangan sampai sebelum kita bicara, orang sudah bisa memastikan; “pasti bagaikan karet yang ditarik kemudian dilepaskan”.

Selayaknya bertambah ilmu pengetahuan menjadikan kita semakin mempunyai cara pandang yang luas. Bukan malah semakin tahu semakin menjadikan kita bagaikan orang yang memakai kacamata kuda. Mudah menghakimi dan sangat saklak dalam bicara dan berpikir.

Ilmu itu bagaikan kacamata bening, yang menangkap segala sesuatu sesuai warna dan bentuk. Bukan bagaikan kacamata berwarna yang menangkap sesuatu sesuai warna kacamatanya. Kalau dia hitam, maka hitamlah segala yang ia lihat. Kalau dia biru, juga birulah segala yang ia pandang. Dan begitulah seterusnya.

Ya Allah, ajarkanlah kepada kami segala yang bermanfaat untuk kami. Dan jadikanlah segala pengetahuan yang sudah kami miliki bermanfaat.

Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2013 in Uncategorized

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: