RSS

Pelajaran Berharga dari Gaza untuk Kita Semua

27 Jan

Kembali, ini adalah postingan keenam saya berturut-turut yang bertema tentang Gaza, Palestina. Karena rasa tanggungjawab dan kepedulian sebagai blogger terhadap kondisi saudara-saudara kita di sana. Mengapa? Mungkin kalian (pembaca) pernah mendengar berita mengenai direkruitnya “Pasukan Blogger” untuk turut berperang di dunia maya dengan membentuk opini publik yang salah mengenai kondisi perang di sana. “Pasukan Blogger” adalah para blogger yang direkrut Israel untuk melawan apa yang disebut Israel sebagai “blog-blog anti-Israel”, yaitu blog-blog yang berisi artikel atau gambar-gambar tentang kekejaman Zionis Israel terhadap rakyat Palestina. Beritanya dapat KITA LIHAT DISINI. Jadi, marilah kita para blogger di sini agar turut andil dalam berperang melawan pasukan blogger Israel tersebut, dengan senantiasa dan terus menerus mengabarkan info-info tentang keadaan yang sebenarnya terjadi di sana.

Berikut adalah sebuah artikel yang sangat menarik, yang sangat perlu kita baca, dan sangat berharga untuk kita ambil sebagai pelajaran, sebagai tauladan yang dapat kita ikuti. Masih saya kutip dari Eramuslim.

Tahun baru 2009 dibuka dengan duka bagi ummat Islam. Perang di Gaza. Pemandangan yang sangat memilukan. Namun Allah Swt menggelar panggung Gaza bukan sekedar untuk menjadi tontonan televisi dan obrolan jurnalistik bulan ini. Inilah kisah sebuah bangsa di atas sepenggal tanah suci. Penduduk Syam (Palestina, Lebanon, Syria, dan Yordania) memang penduduk yang tangguh. Banyak yang pernah terjadi di sana, akan banyak lagi yang kelak terjadi di sana di akhir zaman ini. Semua harus belajar dari panggung ini, terutama ummat Islam. Semua sisi harus menjadi pelajaran, termasuk sisi kemanusiaan sebagai wanita.

Dari berita:

  • Seorang ibu dari keluarga Samouni di Gaza melahirkan di tengah bom.
  • Seorang wanita mengatakan: Tidak, tanah ini milik kami, apapun yang mereka lakukan tanah ini milik kami, kami akan tetap melawan mereka (Yahudi).
  • Seorang wanita muda pergi ke toko roti untuk antri roti berjam-jam di tengah hujan bom di Gaza. Ketika ditanya oleh wartawan mengapa ia tetap pergi ke toko roti padahal tidak aman, ia menjawab: Tinggal di rumahpun kami di bom sedangkan saya harus membeli roti untuk keluarga di rumah, jadi, yah, jalani saja, kita hanya mati sekali.
  • Seluruh dunia tahu bahwa di tengah perang kali ini ada beberapa blog dioperasikan dari dalam Gaza, meskipun mereka kesulitan listrik.
  • Setiap hari pasar tetap buka, meskipun hanya dua jam sehari, dan meskipun pasar tersebut pernah di bom Israel saat jam sibuk dengan korban yang tidak sedikit.
  • Selama 22 hari perang, Israel berhasil membunuh 600 orang anak Gaza dari 1300-an korban meninggal, tapi selama masa itu lahir 3500 bayi, banyak wanita Gaza melahirkan kembar, antara kembar dua dan kembar tiga.

ibu-anakLuar biasa, hanya sehari sesudah kedua pihak menyatakan gencatan senjatanya masing-masing, polisi lalu lintas sudah bertugas di jalan-jalan Gaza, bahkan sekolah dibuka kembali kurang dari sepekan sesudah itu. Para murid saling menyapa ketika pertama kali berjumpa: Hei kamu, masih hidup ya?

Wilayah ini sudah tidak punya gedung parlemen, tidak punya kantor polisi (meskipun polisinya bertugas) dan seluruh gedung pemerintahan sudah pernah dibom, bahkan masjid-masjid dan rumah sakit serta sekolah tak luput dari pemboman. Infrastruktur boleh dikatakan sudah hancur tetapi ternyata struktur masyarakatnya tidak hancur, sistem sosialnya tidak kolaps bersama gedung-gedungnya. Shalat berjamaah tetap dilaksanakan di tengah hujan bom di antara reruntuhan bangunan masjid. Bahkan masjid mengumpulkan dana dari sebagian jama’ah yang masih punya sesuatu untuk disumbangkan kepada tetangganya yang lebih membutuhkan. Ini sebuah bangsa dengan daya tahan amat tinggi.

Jangan lupa, sebelum perang digelar Israel sudah mencekik Gaza dengan blokade selama hampir 2 tahun dan itu menyebabkan semua penduduk Gaza harus mengurangi jatah makan mereka karena sulitnya bahan makanan.

Dengan berita-berita di atas kita mendapatkan gambaran betapa anak-anak Palestina dari generasi ke generasi telah ditempa oleh ujian berat dengan pendamping yang tangguh, para orangtua mereka, para ibu mereka, para ibu yang tetap menjalankan prinsip kesabaran di tengah ujian yang amat berat.

Jika kita meninjau apa kriteria sabar yaitu:

1.      Tidak lemah mental

2.      Tidak lemah penampilan

3.      Tidak lemah aktivitas, maka inilah yang kita lihat dari wanita Gaza:

ibu-anak2Dari berita-berita yang ada, para ibu Gaza tidak lemah mental ingin mengalah pada penjajah Israel, kebanyakan berpendapat bahwa perjuangan melawan penjajahan tetap perlu. Tak ada yang gemetar ketakutan ketika mendengar deru pesawat pembom di atas kepala mereka. Jika di tanya, mereka berkata dengan (nada menantang) bahwa mereka tidak takut pada tentara Israel dan akan melawan dengan senjata alat dapur, jika berhadapan.  Tanda tak ada kelamahan mental di sini.

Mereka tidak lemah penampilan, tampak bahwa mereka tetap tegak ketika diwawancarai para wartawan, bahkan mereka masih bisa menyuarakan kekecewaan mereka pada para pemimpin Arab yang tidak membantu mereka. Bahkan ada yang mengacungkan tangan ke arah kamera. Sikap tubuh mereka jelas menunjukkan mereka tidak lemah penampilan, bahkan bagi yang terluka dan sekarat.

Mereka juga tidak lemah aktivitas, sedikit ada kesempatan mereka langsung beraktivitas, ke pasar berjual beli, memakamkan kerabat, bahkan bersilaturahim di pasar. Di tengah bom mereka mengantri beli roti dengan taruhan nyawa. Bahkan ada seorang ibu yang melahirkan di tengah bom dengan hanya ditolong ibunya dengan penerangan lilin.

Kesimpulan:

  1. Wanita Gaza adalah wanita sabar, ujian apapun yang menimpa tidak membuat mereka gentar ketakutan apalagi sampai harus dibawa ke rumah sakit karena stress  sebagaimana wanita Yahudi di Israel selatan.
  2. Ketabahan mereka ternyata didasari pada iman dan ketaqwaan pada Allah. Kita melihat mereka melarikan rasa frustrasi mereka dengan berdoa mengangkat tangan kepada Allah mengutuk Israel saat mereka menghadapi rumah mereka hancur atau keluarga mereka tewas.
  3. Kerasnya keganasan dan permusuhan Yahudi justru membuat mereka tegak, menggeliat, dan melawan. Perlawanan wanita Gaza bukan dengan mengangkat senjata, tapi dengan menunjukkan keteladanan dalam sikap berani menghadapi kenyataan perang keras dan kejam ini di hadapan anak-anak mereka. Tampak dari raut wajah mereka yang meskipun berurai airmata tapi tetap berwajah tegar. Dan anak-anak menatap polos setiap lekuk ekspresi sang ibu. Pendidikan apa lagi yang terbaik dan paling efektif selain dari pendidikan keteladanan dalam kesabaran. Cobalah amati ekspresi mereka ketika diwawancarai para reporter, baik semasa masih perang maupun sesudah masa tenang ketika menceritakan pengalaman mereka.

ibuKaum ibu tak menyukai perang (kecuali mungkin Tzipi Livni dan Condoleeza Rice), namun jika perang merupakan takdir bagi bangsanya, kaum wanitalah yang memikul beban berat sebagai korban. Merekalah yang pertama merasakan sulitnya keseharian hidup di tengah perang, dari persoalan mencari kebutuhan sehari-hari hingga menenangkan anak yang ketakutan. Belum lagi jika mereka adalah korban utama, sebagaimana di Gaza ini. Karena mesin perang Israel mengejar wanita dan anak-anak bahkan di tempat pengungsian.

Bagi bangsa yang terjajah dan terzalimi seperti ini, masa depan bangsanya terletak di pundak mereka. Jika kaum ibu Gaza menunjukkan kelemahan mental, ketakutan yang membuat takluk pada musuh, kelemahan aktivitas yang menyebabkan mereka tak lagi dapat bergerak menggeliat menjalankan hidup. Jika itu yang dilihat oleh anak-anak mereka hari ini, maka dapat kita bayangkan bahwa dalam 10 tahun ke depan di wilayah yang sekarang bernama Gaza sudah akan berdiri kota wisata Israel dengan nama Yahudi sebagaimana nama Ashdod, Ashkelon, Sderot, KiryatSmona dll. Itu karena jika mereka (kaum ibu Gaza hari ini) lemah, maka anak-anak mereka akan tumbuh menjadi penakut dan pecundang. Tetapi Alhamdulillah sekarang mereka tegar, maka Insya Allah sampai hari Kiamat-pun bangsa Yahudi tak akan dapat merasa tenang dengan kezalimannya. Akan selalu ada yang melawan mereka, generasi ke generasi Palestina yang baru.

Kita harus belajar pada mereka. (San 27012009).

*Sumber: www.eramuslim.com

 
20 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Januari 2009 in artikel pilihan, Info

 

Tag: , , ,

20 responses to “Pelajaran Berharga dari Gaza untuk Kita Semua

  1. anton

    27 Januari 2009 at 2:47 am

    mari kita menolong dengan nyata, sumbangkan sebagian rezki anda walau Rp 500 sangat berharga bagi saudara kita di palestina..

     
  2. cita-cita

    27 Januari 2009 at 7:40 am

    subhanalloh………

    begitu besarnya karunia dan barokah Alloh di negeri yang diberkahi itu….

    sekian orang syahid….
    namun Alloh menggantikannya dengan berlipat ganda generasi-generasi penerus.
    semoga mereka kelak menjadi generasi Robbani yang menegakkan kalimat Alloh dan merindukan syahid.

     
  3. wi3nd

    27 Januari 2009 at 8:52 am

    wanita2 yan9 tan99uh..!!
    perlu banyak belajar daR! mReka neeh..
    makasii yaa nAs..:)

     
  4. layanglayang

    27 Januari 2009 at 11:30 am

    subhanallah..
    mereka lah para wanita tangguh contoh langsung para sahabiyah..

    Allah mengganti para syuhada.. (semoga mereka kekal di dalam surga) dengan jundi2 tangguh yang siap menjaga negeri para Syuhada.

     
  5. omiyan

    28 Januari 2009 at 3:07 am

    saya hanya berharap agar dunia Islam jangan berharap banyak kepada seorang Obama…seharusnya umat ini nyadar bahwa kita nih mampu tanpa mereka

     
  6. hawee

    28 Januari 2009 at 3:52 am

    Allahu Akbar…mudah2an Gaza tetap milik Palestina

     
  7. putri

    28 Januari 2009 at 8:18 am

    Subhanaallah para wanita Gaza sungguh tangguh…

    btw..Put pengiun tahu blognya orang2 palstine..ada lin-annya, gak, mas nAs ?

    nAs:
    salahsatunya ini Put KLIK DISINI

     
  8. Gus Yehia

    28 Januari 2009 at 3:05 pm

    Palestine Gitu Looch..!

     
  9. Blog Competition 2009

    29 Januari 2009 at 7:39 am

    Kita harus tetap peduli pada krisis di Timteng.

     
  10. mujahidahwanita

    29 Januari 2009 at 11:45 am

    Itulah wanita,banyak kaum pria mengatakan wanita itu lemah…

    Ternyata di balik kelemahan wanita ada kekuatan ada semangat yang membakar….

    Api kekuatan dan semangat wanita selalu berkobar

    Walau sumbu pada diri wanita telah hilang…

    Yah! itulah senjata wanita,api kekuatan dan api semangat

    Yang menjadikan seorang wanita sebagai Pahlawan

    Salam damai penuh cinta di dalam Rahmat dan Ridho Allah SWT

     
  11. fahri asyifa

    29 Januari 2009 at 12:34 pm

    ada banyak kesempatan kt belajar. dn Gaza kini menjadi universitas utk mengokohkan ruhiyah kita. nilai kemanusiaan kita… save palestine…!

     
  12. masrobertk

    30 Januari 2009 at 1:16 am

    gaza… mengingatkanku pada lagu WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza) -by Michael Heart

    Sangat menyentuh…

    apalagi kalau kita sudah tahu arti sesungguhnya dari lagu tersebut…

    Kita doakan Saudara kita di Gaza. Saya yakin, Allah mendengar semua doa yang kita minta untuk Saudara kita di Gaza…

    Allahu Akbar…

    http://masrobertk.wordpress.com/2009/01/29/perubahan-nyata-untukmu-indonesiaku/

     
  13. ahsinmuslim

    31 Januari 2009 at 5:09 am

    aku ingin menjadi salah satu dari pasukan blogger, yang berjuang untuk Gaza. yang bersemangat untuk Gaza.

    walau hanya lewat kata dan do’a.
    we love you, gaza!!!!

     
  14. Daiichi

    31 Januari 2009 at 7:47 pm

    Ga bisa ngomong apa-apa lagi untuk yahudi.. Semoga Allah menimpakan Adzab yang pedih untukmereka.
    dan semoga dengan kenyataan ini umat Muslim dunia bisa bersatu. dan kembali bersemangat merapatkan barisan.

     
  15. bujanglahat

    1 Februari 2009 at 10:27 am

    Allah maha melihat dan maha mengetahui…

     
  16. norjik

    1 Februari 2009 at 2:22 pm

    satu saat nanti, Yahudi adalah golongan orang2 yg terbelakang. Amin ..

     
  17. alhumairoh

    2 Februari 2009 at 12:51 am

    doa..doa.. seLain berperang dengan tuLisan, doa akhi yang terpenting bagi mereka..

    Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripada doa”. [Sunan At-Timidzi, bab Do’a 12/263, Sunan Ibnu Majah, bab Do’a 2/341 No. 3874. Musnad Ahmad 2/362].

     
  18. falla

    7 Februari 2009 at 1:26 pm

    saya tetap yakin..
    di palestinalah islam akan jaya dan berdiri tegar,,,

     
  19. falla

    7 Februari 2009 at 1:31 pm

    saya balik lagi kang setelah sekian lama meninggalkanmu..
    hehehe

     
  20. syelviapoe3

    9 Februari 2009 at 12:33 pm

    mas Nas…kemana, nih ?
    Udah lama gak di up date blognya.. ?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: